Aku dan dia bagai berada di tengah
persimpangan jalan.
Langkah kami terhenti karena hal penting
yang menjadi hakikat kami sejak lahir.
Kami tidak bisa maju ataupun mundur.
Awalnya kami pikir kami bisa melaluinya.
Perbedaan keyakinan yang kami anut hanyalah bongkah batu kecil yang harus
membuat kami melompat untuk melewatinya. Nyatanya, pada akhirnya bongkahan batu
itu membesar dan membuat sebuah tembok yang menghalangi kami untuk bersama. Dan
sekarang kami berusaha mencari jalan agar bisa melewati tembok tersebut demi
cinta kami.
*******
“Apa kita kawin lari saja, Mas?” kata
Angel yang langsung ditolak Habibi dengan gelengan kepala.
“Tidak, Angel. Aku bukan lelaki pengecut
macam itu,” kata Habibi yang membuat Angel mendesah berat.
“Lalu kenapa Mas menolak menikah dengan
kepercayaanku? Bukankah cukup adil kalau kita menikah dengan dua aturan sesuai
kepercayaan kita masing-masing?”
“Tidak bisa, Angel. Aku tidak bisa. Aku hanya
akan menikah sesuai dengan keyakinanku.”
“Lalu kapan kita menemukan jalan
tengahnya, Mas? Sampai kapanpun kita tidak akan bisa bersama kalau Mas tidak
mau melakukan itu!” suara Angel yang lembut mulai meninggi. Tidak terbayang
sudah dua bulan pembicaraan ini berlangsung. Sampai detik ini, mereka masih
belum bisa memastikan bagaimana hubungan mereka selanjutnya.
“Akan ada caranya, Angel. Kita hanya
belum menemukannya?”
“Apa, Mas? Sudah dua bulan kita
membahasnya. Satu-satunya cara hanyalah kita menikah sesuai dengan keyakinan
Mas dan keyakinanku.”
Habibi memijit pelipisnya. Cara yang
diucapkan Angel tidak mungkin ia lakukan. Ia tidak ingin menjadi orang yang
keluar dari agamanya karena menikah seperti yang diinginkan Angel.
“Tidak bisa, Angel. Aku tidak bisa
mengikuti keyakinanmu.”
Ucapan Habibi semakin membuat Angel naik
pitam. Ia semakin meninggikan suaranya di depan Habibi.
“Lalu apa mau, Mas? Mas mau kita menikah
ke KUA seperti keinginan Mas? Aku juga tidak mau melakukannya, Mas. Aku tidak
mau membantah keluargaku.”
Habibi menghela nafasnya sembari menatap
Angel. Ia dan Angel sama-sama bersikeras tidak ingin meninggalkan keyakinan
masing-masing. Sekalipun Habibi dan Angel mengatakan saling mencintai, keduanya
tetap memegang keyakinan masing-masing.
Habibi merupakan lelaki yang memiliki prinsip
yang ditanamkan oleh orang tuanya sejak kecil. Walaupun tidak begitu fanatik
dengan agama, tetapi Habibi berusaha tidak melanggar syariat agamanya. Sedangkan
Angel adalah anak yang patuh dengan perintah orang tuanya. Orang tua Angel
meminta agar Angel dan Habibi menikah sesuai keyakinan yang dianut Angel. Tetapi
mereka memberi pilihan lain, Habibi dan Angel bisa menikah seperti aturan dalam
keyakinan masing-masing namun mereka menolak untuk menikah seperti syariat
keyakian Habibi.
“Sepertinya kita tidak memiliki jalan
lain, Angel.”
“Apa maksud, Mas?”
“Kita tidak bisa melanjutkan langkah
kita lagi. Kita berhenti sampai disini.”
Angel yang mengerti maksud Habibi
menggelengkan kepalanya. wacana ini sempat mereka bicarakan, tetapi mereka
menolak dan berusaha mencari jalan keluarnya.
“Tidak, Mas. Kita saling mencintai. Aku tidak
mau.” Habibi menatap Angel yang mulai menangis. Ia sendiri tidak kuasa menahan
sakit di hatinya. Tetapi ia sudah tidak bisa lagi mencari jalan keluarnya.
“Tidak ada jalan lain, Angel. Aku memang
mencintaimu. Tetapi mungkin kita memang tidak bisa bersama karena kita memang
berbeda.”.
***
Tulisan ini untuk Tantangan Hari Kedua Puluh Tujuh event #30DWCJilid5 dengan kata kunci ‘Tengah’. Mohon kritik dan
saran untuk setiap kekurangan. Terima Kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar