Minggu, 07 Mei 2017

Kita Berbeda (#30DWCJILID5)



Aku dan dia bagai berada di tengah persimpangan jalan.
Langkah kami terhenti karena hal penting yang menjadi hakikat kami sejak lahir.
Kami tidak bisa maju ataupun mundur.
Kami berada di tengah cinta dengan keyakinan yang berbeda.




Awalnya kami pikir kami bisa melaluinya. Perbedaan keyakinan yang kami anut hanyalah bongkah batu kecil yang harus membuat kami melompat untuk melewatinya. Nyatanya, pada akhirnya bongkahan batu itu membesar dan membuat sebuah tembok yang menghalangi kami untuk bersama. Dan sekarang kami berusaha mencari jalan agar bisa melewati tembok tersebut demi cinta kami.

*******

“Apa kita kawin lari saja, Mas?” kata Angel yang langsung ditolak Habibi dengan gelengan kepala.
“Tidak, Angel. Aku bukan lelaki pengecut macam itu,” kata Habibi yang membuat Angel mendesah berat.
“Lalu kenapa Mas menolak menikah dengan kepercayaanku? Bukankah cukup adil kalau kita menikah dengan dua aturan sesuai kepercayaan kita masing-masing?”
“Tidak bisa, Angel. Aku tidak bisa. Aku hanya akan menikah sesuai dengan keyakinanku.”
“Lalu kapan kita menemukan jalan tengahnya, Mas? Sampai kapanpun kita tidak akan bisa bersama kalau Mas tidak mau melakukan itu!” suara Angel yang lembut mulai meninggi. Tidak terbayang sudah dua bulan pembicaraan ini berlangsung. Sampai detik ini, mereka masih belum bisa memastikan bagaimana hubungan mereka selanjutnya.
“Akan ada caranya, Angel. Kita hanya belum menemukannya?”
“Apa, Mas? Sudah dua bulan kita membahasnya. Satu-satunya cara hanyalah kita menikah sesuai dengan keyakinan Mas dan keyakinanku.”
Habibi memijit pelipisnya. Cara yang diucapkan Angel tidak mungkin ia lakukan. Ia tidak ingin menjadi orang yang keluar dari agamanya karena menikah seperti yang diinginkan Angel.
“Tidak bisa, Angel. Aku tidak bisa mengikuti keyakinanmu.”
Ucapan Habibi semakin membuat Angel naik pitam. Ia semakin meninggikan suaranya di depan Habibi.
“Lalu apa mau, Mas? Mas mau kita menikah ke KUA seperti keinginan Mas? Aku juga tidak mau melakukannya, Mas. Aku tidak mau membantah keluargaku.”
Habibi menghela nafasnya sembari menatap Angel. Ia dan Angel sama-sama bersikeras tidak ingin meninggalkan keyakinan masing-masing. Sekalipun Habibi dan Angel mengatakan saling mencintai, keduanya tetap memegang keyakinan masing-masing.
Habibi merupakan lelaki yang memiliki prinsip yang ditanamkan oleh orang tuanya sejak kecil. Walaupun tidak begitu fanatik dengan agama, tetapi Habibi berusaha tidak melanggar syariat agamanya. Sedangkan Angel adalah anak yang patuh dengan perintah orang tuanya. Orang tua Angel meminta agar Angel dan Habibi menikah sesuai keyakinan yang dianut Angel. Tetapi mereka memberi pilihan lain, Habibi dan Angel bisa menikah seperti aturan dalam keyakinan masing-masing namun mereka menolak untuk menikah seperti syariat keyakian Habibi.
“Sepertinya kita tidak memiliki jalan lain, Angel.”
“Apa maksud, Mas?”
“Kita tidak bisa melanjutkan langkah kita lagi. Kita berhenti sampai disini.”
Angel yang mengerti maksud Habibi menggelengkan kepalanya. wacana ini sempat mereka bicarakan, tetapi mereka menolak dan berusaha mencari jalan keluarnya.
“Tidak, Mas. Kita saling mencintai. Aku tidak mau.” Habibi menatap Angel yang mulai menangis. Ia sendiri tidak kuasa menahan sakit di hatinya. Tetapi ia sudah tidak bisa lagi mencari jalan keluarnya.
“Tidak ada jalan lain, Angel. Aku memang mencintaimu. Tetapi mungkin kita memang tidak bisa bersama karena kita memang berbeda.”.

***
Tulisan ini untuk Tantangan Hari Kedua Puluh Tujuh event #30DWCJilid5 dengan kata kunci ‘Tengah’. Mohon kritik dan saran untuk setiap kekurangan. Terima Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar